Jumat, 07 Februari 2025

MAKRIFAT KITAN BULAN SYA'BAN SERI KE 2

Moch Djamhar Abdul Karim : =================== *MAKRIFAT* *KITAB BULAN SYA'BAN* =================== Seri Kedua LANJUTANNYA... Sahabat MURRI dimanapun Berada, 6. Setelah Kita Membahas Puasa dibulan Sya'ban Bisa Memakai Niat : *"Nawaitu Showma Ghodin Fis Syahri Sya'bana Sunnatan Lillahi Ta'alaa, Niat Saya Puasa Esok Hari dibulan Sya'ban Sunnah karena Alloh Ta'laa"*. 7. Nabi S.A.W. Menekankan agar Bulan Sya'ban Istiqomah Qiyamul Lail (Sholat Malam), Terlebih lagi Sholat Nishful Lail (Pertengahan Malam), Lebih Utama Tidur Dahulu Tapi Bila ndak Bisa Tidur maka Boleh Langsung Qiyamul Lail. 8. Dalam Kitab Sunan Imam Ibnu Majah Jilid 1 Hal. 421 dan Kitab Sunan Al Kubro Imam Al Baihaqi Bab Su'abul Iman Jilid 3 Hal. 378, Riwayat dari Sayyidina Ali bin Abi Tholib R.A., Ia Berkata bahwa Nabi S.A.W. Bersabda : إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللهَ يَنْزِلُ فِيْهَا لِغُرُوْبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُوْلُ أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلاَ مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ *“Pabila Datang Malam dibulan Sya’ban (Lakukan dari Awal sampai Akhir Bulan), maka Lakukanlah Qiyamul Lail (Sholat Malam), dan Berpuasalah di Siang Harinya, karena Alloh SWT Turun (Menurunkan Berkah dan Rohmah) ke Langit Dunia (Langit Pertama) saat itu pada Waktu Matahari Tenggelam (Malam diawal Bulan Sya'ban), lalu Alloh SWT Berkata : "Adakah Orang yang Meminta Ampunan kepadaKU maka AKU akan Ampuni dia, Adakah Orang yang Meminta Rezeki kepadaKU maka AKU akan Memberikan Rezeki kepadanya, Adakah Orang yang diuji maka AKU akan Selamatkan dia. Adakah Demikian dan Demikian?", sampai Terbit Fajar"*. 9. Dalam Kitab Sunan Al Kubro Imam Al Baihaqi, Riwayat dari Sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq R.A. bahwa Nabi S.A.W. Bersabda : ينزل الله إلى السماء الدنيا *ليلة النصف من شعبان* فيغفر لكل شيء، إلا لرجل مشرك أو رجل في قلبه شحناء *“(Rahmat) Alloh SWT Turun ke Bumi pada Malam Pertengahan dibulan Sya’ban, DIA akan Mengampuni Segala Sesuatu Terkecuali Bagi Orang yang Melakukan Dosa Syirik (Musyrik) dan Orang yang didalam Hatinya Tersimpan Kebencian (Kemunafikan)"*. 10. Pepeling : Banyak Umat yang Keliru Kefahamannya dengan Menyebut *"NISHFU SYA'BAN"* sehingga diartikan Menjadi *"Pertengahan Bulan Sya'ban"*, Padahal di Hadits-hadits dan Kitab Para Ulama Tertulis Arabicnya : *"Lailatan Nishfi Min Syabana"* sehingga Memiliki Arti : *"Pertengahan Malam dibulan Sya'ban"* Artinya dari Tanggal 1 sampai Akhir Bulan Syaban Alloh SWT Turunkan Malam yang diberkahi Tersebut disalah Satu Malamnya, dan Ini Termasuk Malam Rahasia sama seperti Malam Al Qodar saja. 11. Maka itu karena Penyebutannya Keliru yaitu : *NISHFU SYA'BAN* sehingga Kefahamannya Adalah Alloh SWT Turunkan Malam yang diberkahi itu dipertengahan Bulan Sya'ban maka Berbondong-bondong Tuk Membaca Yasinan dan Do'a, Bagusnya dikerjakan Setiap Malam selama Bulan Sya'ban maka Insya Alloh akan Menjumpai Malam yang diberkahi itu, Pabila dilaksanakan pun Kegiatan Yasinan Tengah Bulan Tersebut maka Jangan Meyakini bahwa dimalam Pertengahan pada Bulan Sya'ban itu Alloh SWT Turunkannya Malam yang diberkahi Tersebut sehingga Nantinya Terjadi Kesalah Fahaman secara Turun Temurun, maka Sudahi dari Diri Kita saat ini. #Bersambung Seri KETIGA

MAKRIFAT KEISTIMEWAAN SYA'BAN

Moch Djamhar Abdul Karim : ===================== *MAKRIFAT* *KEISTIMEWAAN SYA'BAN* ===================== Terdapat Beberapa Peristiwa Penting yang Berdampak pada Kehidupan Umat Islam yang Terjadi dibulan Sya'ban, yaitu sbb : *1. Peralihan Kiblat* : yaitu dari Masjidil Aqsha Palestina ke Masjidil Haram Mekah Terjadi pada Bulan Sya’ban. Menurut Imam Al Qurthubi ketika Menafsirkan Surat Al Baqoroh Ayat 144 dalam Kitab Al Jaami’ Li-Ahkaamil Qur’ani, Beliau Mengutip dari Pendapat Imam Abu Hatim Al Basti yang Mengatakan bahwa : *"Alloh SWT Memerintahkan Nabi Muhammad S.A.W. Tuk Mengalihkan Kiblat pada Malam Selasa Bulan Sya’ban yang Bertepatan dengan Malam Peretengahan dibulan Sya’ban"*. Peralihan Kiblat ini Merupakan suatu hal yang Sangat ditunggu-tunggu oleh Nabi Muhammad S.A.W., Bahkan diceritakan bahwa Nabi Muhammad S.A.W. Suka Berdiri Menghadap Langit setiap Harinya Menunggu Wahyu yang Turun Perihal Peralihan Kiblat itu, seperti Surat dalam Al Baqoroh Ayat 144 : قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ. *"Sungguh Kami Melihat WajahMu Kerap Menengadah ke Langit, maka Sungguh Kami akan MemalingkanMu ke Kiblat yang Kamu Sukai. Palingkanlah WajahMu ke arah Masjidil Haram"*. *2. Penyerahan Amal Setahun*. Dalam Kitab Sunan Imam An Nasa’i, Riwayat dari Sahabat Usamah bin Zaid R.A., Ia Berkata : "Wahai Nabi, Aku ndak Melihat Engkau Berpuasa dibulan-bulan lain Sebagaimana Engkau Berpuasa dibulan Sya’ban (lebih Banyak Puasanya)?", Rosululloh S.A.W. Menjawab : *"Banyak Manusia yang Lalai di Bulan Sya’ban, Padahal di Bulan itu Semua Amal diserahkan kepada Alloh SWT. Dan Aku lebih Suka ketika AmalKu diserahkan kepada Alloh SWT bahwa Aku dalam Keadaan Puasa"*. Penyerahan Amal Setiap Minggu Sekali yaitu Tiap Hari Kamis, sedangkan Tiap Tahun Sekali Tiap Pertengahan Malam pada Bulan Sya'ban. Ada juga Pendapat bahwa Amal yang diserahkan Langsung Tanpa Menunggu-nunggu lagi, yaitu Catatan Sholat Lima Waktu, Semoga Kita dan Anak Keturunan Kita Termasuk Hamba Alloh yang Ahli Sholat dan diterima serta diridhoi Alloh SWT Amaliyyah Sholatnya, Aamiin. *3. Penurunan Ayat Tentang Sholawat*. Pada Bulan Sya’ban juga diturunkan Ayat Perintah Tuk Bershalawat kepada Nabi Muhammad S.A.W., yaitu : QS. Al Ahzab Ayat 56. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا *"Sungguh Alloh SWT dan Para Malaikat-NYA Bershalawat Tuk Nabi S.A.W. Hai Orang-orang yang Beriman Bersholawatlah Kalian Tuk Nabi S.A.W. dan Ucapkanlah Salam Penghormatan Kepadanya"*. Imam Ibnu Hajar Al Asqalani Mengatakan bahwa Ayat ini Turun pada Bulan Sya’ban Tahun ke-2 Hijriyah. Dalam Kitab Shohih Imam Al Bukhori dari Abu Aliyah R.A. Berkata : صلاة الله عليه ثناؤه عليه عند الملائكة. وصلاة الملائكة الدعاء. وقال ابن عباس يصلون يبركون. *"Sholawat Alloh SWT kepada Nabi S.A.W. Adalah Pujian Terhadap Beliau dihadapan Para Malaikat-NYA, sedangkan Sholawat Malaikat atas Nabi Adalah Do’a Tuk Beliau"*. Sahabat Ibnu ‘Abbas R.A. Berkata : *"Malaikat Bersholawat kepadanya Maknanya Adalah Mereka Memohonkan Berkah Tuk Beliau"*. Imam Sufyan Ats Tsauri dan Para Ulama Lainnya Berpendapat bahwa : صلاة الرب الرحمة، وصلاة الملائكة الاستغفار. *"Sholawat Robb atas Beliau Adalah Rohmat bagi Beliau, sedangkan Sholawat Para Malaikat atas Beliau Adalah Permohonan Ampun (Maghfiroh) Tuk Beliau”. Dalam Kitab Tafsir Imam Ibnu Katsir Jilid 3 Hal. 576, Imam Ibnu Katsir Berkata : *"Jika ditafsirkan dengan Pujian terhadap Beliau dihadapan Para Malaikat-NYA or Rohmat maka Kedua hal ini ndaklah Saling Bertentangan antara Satu dengan yang Lainnya"*. Sedangkan dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir Jilid 3 Hal. 590, Imam Al Qodhi ‘Iyaadh Berpendapat bahwa : *“Mereka Berdo’a agar Alloh SWT Memberikan Beliau Rohmat dan Melipat Gandakan Pahalanya"*. __________ Dari Beberapa Pendapat diatas dapat Kita Simpulkan sbb : 1. Makna Lafadz *"Shollallohu 'Alaihi Wa Sallam"* Adalah Merupakan Pujian bagi Beliau dihadapan Para Malaikat yang Terdekat dengan-NYA yaitu Malaikat Al Muqorrobiin. 2. Bila Sholawat Alloh SWT atas Nabi S.A.W. ditafsirkan sbg Do'a Rohmat kepada Beliau, ini Bisa Jadi Merupakan Pendapat yang Lemah, Karena Rohmat Boleh dimintakan Tuk Setiap Orang Misalkan Ada yang Masih Hidup or yang sudah Wafat Boleh dikatakan : *"Rohimahullah, Semoga Alloh SWT Merohmatinya"*. 3. Tetapi Semua Ulama Bersepakat bahwa Tak Boleh pada Semua Orang diucapkan : *"Shollallahu ‘Alaihi Wa Sallam"*. Maka Berarti ini Menunjukan bahwa Sholawat ndaklah Bisa disamakan dengan Permohonan Do’a agar diberi Rohmat. 4. Dalam QS. Al Baqoroh ayat 157, Alloh SWT Berfirman : أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ. *"Mereka itulah yang Mendapat Sholawat dan Rohmat dari Robb Mereka"*. Maka Pada Ayat ini Terdapat 'Athof Hurup Wau, sedangkan Hurup 'Athof Menunjukkan Adanya Perbedaan, oleh sebab itu Sholawat Bermakna Lebih Khusus dari pada Permohonan agar diberikan Rohmat Alloh SWT. Admin Grup WhatsApp : Kang Ma'riful Anwar (087786443377) ~ ADMIN ~ INFORMASI MURRI PUSAT Klik link di bawah ini: https://linkr.bio/murripusat

MAKRIFAT KITAB BULAN SYA'BAN SERI KE 1

Abah Moch Djamhar Abdul Karim : ==================== *MAKRIFAT* *KITAB BULAN SYA'BAN* ==================== Seri Ke-1 Ada Beberapa Hal yang Berkaitan dengan Bulan Sya'ban ini Adalah sbb : 1. Nabi S.A.W. Paling Banyak Berpuasa setelah Romadhon Adalah Bulan Sya'ban, Ini dilakukan Tuk Menyambut Bulan Suci Romadhon juga karena Bulan Sya'ban Adalah Bulannya Nabi. 2. Dalam Kitab Salah Satu Syarah Fathul Mu'in yaitu Kitab Nihayatuz Zain Karya Syekh Nawawi Al Bantani dijelaskan Ttg Macam-macam Puasa Sunnah, Adapun Puasa Sunnah ke-12 Adalah : الثاني عشر صوم شعبان لحبه صلى الله عليه وسلم صيامه فمن صامه نال شفاعته صلى الله عليه وسلم يوم القيامة *“Puasa Sunah yang Kedua Belas Adalah Puasa Sya’ban. Sebab Nabi Muhammad S.A.W. Sangat suka Berpuasa pada Bulan Tersebut maka Siapa saja yang Berpuasa dibulan Sya’ban, maka Ia Kelak akan Memperoleh Sya’faat dihari Kiamat”*. 3. Dalam Kitab Shohih Imam Al Bukhori dan Imam Muslim, Riwayat dari Ummul Mukminiin Sayyidah A'isyah R.A., Ia Berkata : لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ *"Belum Pernah Nabi S.A.W. Berpuasa Satu Bulan yang Lebih Banyak daripada Puasa Bulan Sya’ban. Terkadang Hampir Beliau Berpuasa Sya’ban Sebulan Penuh"*. 4.Dalam Kitab Sunan Imam An Nasaa-i dan Kitab Musnad Imam Ahmad, Riwayat dari Sahabat Usamah bin Zaid R.A., Ia Bertanya : “Ya Rosulalloh, Saya Belum Pernah Melihat Anda Berpuasa dalam Satu Bulan sebagaimana Anda Berpuasa dibulan Sya’ban", lalu Nabi S.A.W. Bersabda : ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ *“Ini Adalah Bulan yang Sering dilalaikan Banyak Orang, Bulan antara Rojab (Bulan Alloh SWT) dan Romadhon (Bulan Umat). Ini Adalah Bulan dimana Amal-amal diangkat Menuju Robb Semesta Alam (Laporan Tahunan). Dan Saya ingin Ketika Amal Saya diangkat, Saya dalam Keadaan Berpuasa"*. 5.Dalam Kitab Sunan Imam An Nasaa-i, Riwayat dari Ummul Mukminiin Sayyidah Ummu Salamah R.A., Ia Berkata : أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ يَصُومُ مِنَ السَّنَةِ شَهْرًا تَامًّا إِلَّا شَعْبَانَ، وَيَصِلُ بِهِ رَمَضَانَ *“Bahwasanya Nabi S.A.W. Belum Pernah Puasa Satu Bulan Penuh selain Sya’ban, kemudian Beliau Sambung dengan Puasa Romadhon"*. #BERSAMBUNG… ~ ADMIN ~ INFORMASI MURRI PUSAT Klik link di bawah ini: https://linkr.bio/murripusat

MAKRIFAT MENUNDUKAN PANDANGAN

Moch Djamhar Abdul Karim : ========================= *MAKRIFAT* *MENUNDUKAN PANDANGAN* ========================= 1. Assalamualaykum Wr, Wb Abah. Saya ingin menanyakan perihal Sholawat Spt : *Allahumasholiala sayidina Muhamammad waala ali sayidina Muhammad. *Allahumasholiala sayidina Muhammad Abdika warosulika nabiyil ummiyi waala alihi wasohbihi wasalimu taslima. *Allahumasholi ala sayidina Muhammad waala alihi wasohbihi wasalim. Contoh dr 3 sholawat di atas apakah ada perbedaan manfaat yg insya Allah kita peroleh?. Ke 2 saya mau menanyakan perihal maksiat pandangan Abah. Di zaman sekarang ini baik dijalan, ditempat kerja, tempat umum kadang tidak sengaja memandang (mohon maaf) lekuk tubuh wanita yg tiap beberapa menit kadang detik tak terhindarkan, bagaimana cara menyikapi hal tsb Abah, Sementara pribadi saya kadang inget (istihgfar), tetapi kadang terbawa memory otak/ (ke save). ========== Wslm Wr Wb, 1. Sholawat Ummat Buat Berkah Hidup, Ada juga yg Menyebutnya Sholawat Fulus Pabila dibaca Sekali Dudukan Istiqomah Minimal 1001x or Standarnya Sekali Dudukan 10014x. 2. Sholawat Ummiyyi Buat Taubat dan diampuni Dosa-dosa Khususnya Dosa Kecil, dibaca 80x setiap Ba'da Ashar Hari Jum'at setelah Salam dan Sebelum Mengucapkan Apa-apa dan juga Sebelum Merubah Tempat Duduk Tawwaruknya. 3. Sholawat dan Salam Buat Pahala karea Ada Sholawatnya juga ada Salamnya dibaca Seikhlasnya dan Semampunya. "Itu Ringkasannya, Namun Ada Kesamaannya yaitu Memakai Lafadz "Allohumma" Pabila Sholawat diawwali *"Allohumma"* maka itu Berarti Doa Dalilnya : *"Yaa Ayyuhal Ladziina Aamanuu Sholluu.."*, Pabila Sholawat diawwali *"Shollallohu"* maka itu Berarti Tauhid Dalilnya : *"Innalloha Wa Malaaikatahu Yusholluna 'Alan Nabiy"* Namun Banyak Umat Islam yg Bersholawat dan Mengadakan Maulid Tetapi dihatinya Belum-belum juga Mendapatkan Curahan Mahabbah kpd Nabi S.A.W. sebab Tandanya Adalah Akhlak dan Ibadahnya Belum Meningkat baik Kuantitas maupun Kualitasnya. Maka itu didalam Thoriqoh Rosululloh S.A.W. pada Dzikir Poin Kedua setelah Istighfar Memakai Lafadz Panggilan yaitu : *"Yaa Rosulalloh Ya Habiballoh"*, Tujuannya Adalah Mau Cinta kek Mau Kagak kek Pokoknya Memanggil-manggil Beliau dgn Tulus Ikhlas Baik didunia, dibarzakh maupun diakhirat Kelak sudah Terbiasa shg Pasti Lambat Laun Beliau akan Mendatangi dan Mengunjungi Siapapun Umatnya yg Memanggilnya dgn Panggilan Kehormatan Tersebut dan Yakinlah Pabila Beliau Hadir Mengunjungi maka DiriMu akan Beruntung dan Kecipratan Nur Mahabbah Nabi Muhammad S.A.W. *Mengenai Ghudul Bashor* : "Itu Pilihan, didalam Kitab An Najm Al Wahhaj oleh Syekh Ad Damiri yang Wafatnya Tahun 808 H Menyinggung Ttg Wanita Bercadar, Menutup Wajahnya antara Wajib dan ndaknya memang Khilafiyyah, Ada Perbedaan Wajib Pabila Fitnah Merajalela dan Ada Pendapat Sunnah Pabila ndak Ada Fitnahnya. Tetapi Ada Kesepakatannya didalamnya shg Walaupun dihukumi Sunnah Menutup Wajah dan Wajah Bukanlah Aurot, akan Tetapi Laki-laki Tetap harus Menundukkan Pandangannya (Ghudul Bashor) dan Hal ini ndak Ada Khilaf disini. Mengenai Memakai Cadar or ndak itu Soal Pilihan, harus dihargai, Baik dan Bagusnya Ttg Wanita yg Memakainya Hal itu Tuk membantu Laki-laki didalam Menjaga Pandangannya sebab Termasuk dalam Mahasin yakni Bermaksud Tujuan yg Mulia, dalam Syari'at dibuat Tuk Berpaling dari Poin-poin yang dapat Menjurus kepada Tuhmah yaitu Terjadinya Pelecehan sebab ndak Bisa Menjaga Pandangannya". "Memang Memakai Cadar itu Pilihan, ndak Memakai nya juga ndak Mengapa dan ndak Ada Paksaan, Tetapi ketika Wanita ndak Bercadar maka Laki laki harus Siap Bisa Menundukan Pandangannya, Menjaga Kehormatan Saudarinya. Karena setiap Wanita Adalah Ibu, Anak Gadis dan Saudari bagi Orang Lain (Ajnabi), sedangkan Kita Ndak ingin Hal-hal yg Demikian Terjadi pada Ibu, Anak Gadis dan Saudari Kita. Maka bagi Lelaki ndak ada Pilihan, selain Menundukan Pandangannya. Demikian juga Imam An Nawawi Damasqus Menguatkan Pendapat bahwa : *"Wanita bdak Boleh Memandang Laki-laki sebagaimana Sebaliknya"*. Soal Lihat, Melihat dan dilihat ini Adalah Soal pilihan Kita. Memakai Cadar juga Soal Pilihan, jadi Jangan Ada Paksaan Baik Melarang Maupun Paksaan Memakainya. Tetapi harus Ada Rasa Bertanggung jawab Menjaga Kehormatan, dan Tetap harus Menundukkan Pandangannya. Maka itu Tuk Wanita Jangan Kebanyakan Selfie-selfie Apalagi Uploud Foto Tuk Menjaga Kehormatan Dirinya, Bukan Berbangga-bangga dgn Keawaman Dirinya. Maka itu di Tarim Hadrmaut pun Sangat Sulit Menemukan Wanita yg Berselfie, Termasuk di Mbah Google sebab Mereka Umumnya diajarkan dan dicontohkan Akhlak Islami dari Sejak Kecilnya oleh Orang Tua Mereka Masing-masing". "Nah Kalau Kalian Berbicara dgn Saya Bisa Kalian Perhatikan dgn Seksama, Adapun Saya Biasanya Kalau Melihat Wanita itu Perdetik or Sekilas-sekilas, dan Bukan kpd Wanita saja Tetapi kepada Lelaki juga sama dan Bukan kpd Lelaki saja Tetapi Melihat Duniawi juga sama sebab Lebih dari 3 Detik Sangat Rentan Tuk Masuk Wilayah Sirr (Greteg or Kesemsem), Nah Sirr inilah didalam Dunia Spiritual ndak diperbolehkan Bahkan diharamkan, sebab sudah Sirr keduniawi selain Alloh SWT, Misalkan Kalau dalam Benak Lamunan : *"Ya Alloh Kapan Yah Saya Punya Mobil (Kendaraan, Rumah, ini dan itu) spt itu Yah (sambil Melihat)"*. Ini Masuk Wilayah Sirr, Termasuk kpd Lawan Jenis juga Jangan spt itu. Nah Itulah yg akan Menjadi Khoyali Nantinya, Mengganggu Kekhusuan Ibadah dan Dzikirnya Kelak, Makanya Kalau Kalian Berbicara kpd Saya Bisa Kalian Perhatikan Betul-betul dgn Seksama, Biasanya Saya itu Memaknai Ilmu Menundukan Pandangan Bukan kpd Wanita saja Tetapi kpd Duniawi sebab Wanita itu Simbol Gambaran Sesuatu yg Indah Pabila dipandang spt Kalau diakhirat itu Sorga, Pahala, Balasan, Kahiat, Fadhilah maka Butakanlah Penglihatan Kalian dari Itu Senua Tetapi Pandanglah Alloh SWT disemua Makhlak-makhluk CiftaanNYA itu. Saya Contohkan dalam Kasus Keracunan Kopi Mirna, Kalian Masih Ingat Kasus itu, Ketika itu Ada Rekaman CCTVnya dan dalam Satu Menit Pabila Videonya HD itu Bisa 60-70 Slade Foto Pabila dijadikan Foto, itu dalam Satu Menit. Lalu Bagaimana dgn Kalian Memandang, Melihat yg Lebih dari Satu Menitan itu, Apalagi Melihatnya Memakai Sirr (Kesemsem) shg Umumnya Otak Umat itu Bersemayam Kegelapan, Keraguan, Waswas, Khoyali, Bayang-bayang dan Gambar-gambar Duniawi shg Rusaklah Otak Bathinnya sebab Lebih Banyak Eling kpd Makhluk yang Maha Kotor daripada Elingnya kpd Alloh SWT Yang Maha Suci. Itulah Mengapa dalam Al Quran Perintah Dzikir Sangatlah Banyak Ayat-ayatnya hampir Sepertiga Al Quran. Juga Alloh SWT Berpesan di QS. An Nuur Ayat 31 : قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ *”Katakanlah kepada Orang-orang Mukmin "Hendaklah Mereka Menundukan Pandangannya dan Memelihara Kemaluannya", sebab yang Demikian itu Adalah lebih Suci bagi Mereka. Sesungguhnya Alloh SWT Maha Mengetahui Apa yang Mereka Perbuat"*. Imam Ibnu Katsir Mengatakan : هذا أمر من الله تعالى لعباده المؤمنين أن يغضوا من أبصارهم عما حرم عليهم، فلا ينظروا إلا إلى ما أباح لهم النظر إليه ، وأن يغضوا أبصارهم عن المحارم *“Ini Adalah Perintah dari Alloh SWT kepada Hamba-hambaNYA yg Memiliki Iman Tuk Menjaga Pandangannya dari Hal-hal yang diharamkan atas Mereka. Maka Janganlah Memandang Terkecuali Memandang kepada Hal-hal yg masih diperbolehkan Tuk dipandang. Dan Tahanlah PandanganMu dari Hal-hal yang diharamkan"*. Maka itu, Jika Seseorang Mengumbar Pandangan Matanya, maka dia telah Mengumbar Syahwat Hati dan Pikirannya shg didalam Hadits Riwayat Imam Bukhari No. 6243 dan Imam Muslim No. 2657, Rosululloh S.A.aw. Bersabda : كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا، مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ *”Sesungguhnya Alloh SWT telah Menetapkan atas diri Anak Keturunan Adam Bagiannya dari Zina. DIA Mengetahui yang demikian Tanpa dipungkiri. Mata bisa Berzina, dan Zinanya Adalah Pandangan (yang diharamkan). Zina Kedua Telinga Adalah Mendengar (yang diharamkan). Lidah (lisan) bisa Berzina, dan Zinanya Adalah Perkataan (yang diharamkan). Tangan bisa Berzina dan zinanya adalah Memegang (yang diharamkan). Kaki bisa Berzina dan Zinanya Adalah Ayunan Langkah (ke Tempat yang Haram). Hati itu bisa Berkeinginan dan Berangan-angan. Sedangkan Kemaluan Membenarkan yang demikian itu or Mendustakannya"*, disinilah Pentingnya Iman sbg Rem dan disinilah Letaknya Ujian Iman dan Kita akan Mengetahuinya juga Kualitas Iman Masing-masing shg Ada Doa Rintihan didalam Iman : *"Ya Alloh, Bagaimana Mata ini Mampu MemandangMU Kelak diakhirat dan Bagaimana Mata ini Bisa Melihat Rosululloh S.A.W. dalam Setiap Mahabbahnya, Pabila Mata ini diselimuti oleh Syahwat dan Dosa-dosa Setiap saatnya"*. Maka itu Orang yg Rajin Dzikirnya namun disertai ndak Menjaga Pandanganya maka Rusaknya lebih Parah sebab Rasanya Lebih Peka Ketimbang Orang yg Jarang Dzikirnya shg Alam Khoyalinya Lebih Pekat dan Seakan-akan Nyata Padahal Ilusi saja". #Kalau Ngaji agar difahami Dahulu Benar-benar dgn diulang-ulang agar selalu Ingat dan Menempel dihati supaya Sami'naa Wa Atho'naa pada Kebenaran Hidayah Alloh SWT Lebih Mudah. Admin Grup WhatsApp : Kang Ma'riful Anwar (087786443377) ~ ADMIN ~ INFORMASI MURRI PUSAT Klik link di bawah ini: https://linkr.bio/murripusat

MAKRIFAT MAHABBATUR ROSUL

Moch Djamhar Abdul Karim: =================== *MAKRIFAT* *MAHABBATUR ROSUL* =================== *Edisi Bulan Sya'ban* *Bulannya Nabi S.A.W.* "Segala Pujian Adalah MilikMU Ya AlloH (dgn Menunjuk Jari Telunjuk Kanan Keatas), Wahai yg Memberi Keselamatan, Wahai yg Membentuk segala Rupa, Wahai yg Menjadi Tempat Bergantungnya Semua Makhluk, DIA lah yg Telah Memuji DiriNYA Sendiri sebelum yg Lain MemujiNYA, DIA lah yg Menyanjung DiriNYA Sendiri sebelum yg Lain MenyanjungNYA. Segala Pujian adalah MilikMu Ya Alloh yg Telah Menurunkan Al Qur-an dan As SunnahNYA yg Maha Sempurna, yg telah Menurunkan Nikmat Iman wal Islam & Segala Nikmat-nikmat yg Lainnya". "Wahai Orang-orang yg Lalai, HidupMu Banyak Menghabiskan Umur saja spt Orang yg sedang Bingung yg selalu Bergelimang Dosa dan Dunia *"Hatta Zurtumul Maqoobir, Sampai Kamu Tenggelam ke Liang Qubur"* Barulah Berhenti, Pada Bulan Sya'ban ini Kembalilah Kpd Alloh Ta’ala dan Ketuklah Pintu-pintu HidayahNYA yang Mulia itu, Apalagi Mumpung Pada Bulan yg Penuh RahmatNYA ini". "Saat ini akan Ku Ceritakan Kpd Kalian yakni Sebuah Kisah yang akan Melembutkan Hati Kalian yg Masih Keras, lalu Berkaca-kacalah Kedua MataMu kemudian Berlinanglah Air MataMu karena Mengingat Beliau S.A.W. Inilah Kisah Cinta yg Tulus itu, Cinta yg ditulis dgn Air Mata dan Darah Perjuangan dan Pengorbanan. Ketika itu Dunia dikagetkan dgn Kehadiran Sebuah Cahaya yg Saangat Terang yg Keluar dari Padang Pasir. Dari Mana Datangnnya Cahaya itu, yakni : Berasal dari Cahaya Muhammad bin Abdillah S.A.W.". Anas bin Malik RA Berkata : *“Takala Nabi S.A.W. datang ke Madinah maka Seluruh Penjuru Kota Tampaklah Terang”*, Tidaklah Nabi S.A.W. datang ke Dunia ini Terkecuali Tuk Menebarkan Kebaikan karena Alloh SWT Berfirman : *“Wa Maa ArsalnaaKa Illaa Rohmatan Lill ‘Aalamiin, Tidaklah KU MengutusMu Terkecuali Tuk Rahmat Seluruh Alam”.* Nabi S.A.W. telah disucikan HATI dan AQALNYA oleh Alloh SWT maka itu DIA Berkalam : *”SahabatMu itu Tidaklah Sesat & juga Tidak Keliru”,* PANDANGANNYA pun telah disucikan Alloh SWT maka itu DIA Berkalam : *“Ia Tidaklah Melenceng Pandangannya dan juga ndak Melampaui Batas”*, LISANNYA pun telah disucikan maka itu DIA Berkalam : *“Ia Tidaklah Berbicara atas Dasar Hawa Nafsunya”*, HATINYA pun telah disucikan maka itu DIA Berkalam : *“Hatinya Tidaklah Mendustakan Apa yg dilihatnya”* dan Alloh SWT pun telah Mensucikan Segala Hal Ihwalnya shg DIA Berfirman : *“Wa Innaka La’alaa Khuluqin ‘Azhiim, Sungguh Kamu Memiliki Akhlak yg Agung”*. Oleh krn itu, "Tidaklah ada Seorang pun yg Mengetahui Hal Ihwal Nabi S.A.W. kecuali Hanya Alloh SWT yg Maha Mengetahui. Maka itu, Alloh SWT ndaklah Pernah Menyebut Beliau S.A.W. dgn Panggilan Namanya, hal ini Menunjukan Penghormatan kpd Beliau S.A.W., Alloh SWT Berfirman Kpd selain Nabi S.A.W. semuanya dgn Panggilan Namanya spt : *“Wahai Adam, Tinggal lah Kamu dan IsteriMu di Surga”*, Ada lagi *“Wahai Nuh, Turunlah (dari Perahu itu) dgn Selamat Sejahtera”*, Ada lagi *“Wahai Ibrohim, Kamu telah Membenarkan MimpiMu itu”*, Ada lagi *"Wahai Musa, Sungguh Aku ini Alloh”*, Ada lagi *“Wahai Isa, Sungguh Aku akan MewafatkanMu dan MengangkatMu KpdKU”* d.l.l. Tetapi Berbeda Takala Alloh SWT Memanggil Kpd Beliau S.A.W. : *“Ya AyyuHan Nabiy Innaa ArsalnaaKa SyaaHidan wa Mubasyiron, Wahai Nabi Sesungguhnya Aku MengutusMu sbg Saksi dan Pembawa Kabar Gembira dan juga Peringatan”.* Ibnu Abbas RA Berkata : *“Demi Alloh, Alloh SWT ndak akan Menciftakan Seorang pun yg Lebih Mulia dari Nabi S.A.W.”* Sebab Alloh SWT Menganugerahkan Kpd Jiwa Suci Beliau S.A.W. dgn Keagungan Akhlak dan Budi Pekerti yg Mulia shg Beliau disegani oleh Musuh maupun Sahabat-sahabatnya. Bila Ku Berucap didalam setiap Lafadz MahabbahKu : *“Wahai Nabi, Sungguh Engkau Makhluk yg Paling Baik dan Paling Sempurna dari segala CiftaanNYA, Engkau diciftakan Bebas dari Segala Cacat baik Zhohir maupun BathinMu shg Seakan-akan Ku Menganggap Engkau diciftakan Sesuai KeinginanMu Sendiri. Wahai Nabi, Engkau yg dihiasi Sifat Kasih Sayang dan Lemah Lembut Tutur KataMu Kpd Siapapun baik Kpd yg Muda maupun Kpd yg Tua, Kpd Orang Mukmin maupun Kpd Orang Kafir maka Pantaslah bila Engkau diutus Tuk Rahmat Seluruh Alam”.* Dari Usamah RA, Nabi S.A.W. Bersabda : *“Sesungguhnya Alloh dan Para MalaikatNYA hingga Semut-semut di Lubang dan Ikan-ikan di Lautan Bersholawat atas Pengajar Kebaikan”.* Maka itu Alloh SWT Berfirman : *“InnalloHa wa Malaa-ikataHu Yusholluuna ‘Alan Nabiy, Ya AyyuHal Ladziina Aamanuu Sholluu ‘AlaiHi wa Salliimu Tasliiman”*. Sehingga Nuur Beliau S.A.W. Tersebar disetiap Waktu dan Tempat, sampai-sampai Batu-batu, Hewan dan Pepohonan yg Mengawali Mengucapkan Salam kpd Beliau hingga Kayu pun Menunjukan Rasa Sayangnya Kpd Beliau S.A.W. Sementara Banyak Sekali dari Kalangan Manusia Bahkan yg Sudah Mendapatkan Gelar Muslim pun ndak Menunjukan Hal yg Demikian. Dari Anas bin Malik RA Berkata : *“Sungguh, Nabi S.A.W. Pernah Berkhuthbah dgn Berpegangan Sebuah Kayu lalu Takala Selesai Berkhuthbah Kayu itupun dilepasnya kemudian Terdengarlah Suara Tangisan dari Kayu itu lalu Nabi S.A.W. Menghampiri Kayu tadi agar Tenang"* kemudian Beliau Bersabda Kpd Para Sahabat yg Hadir : *“Kalaulah Aku ndak Menghampiri Kayu ini maka Kayu ini akan Menangis sampai Hari Qiyamat nanti”*, Masyaa Allah 77x. Sebuah Kayu saja ndak Mau Berpisah dgn Beliau S.A.W. dan didalam Sebuah Riwayat *“Kayu tadi Menangis spt Tangisannya Seorang Bayi”*. Dari Abdulloh bin Ja’far RA Berkata : “Nabi S.A.W. Pernah Menemui Seorang Sahabat Anshor lalu Nabi SAW Melihat Onta yg sedang Menangis hingga Beliau Usap Air Matanya itu kemudian Beliau Berkata : *“Milik Siapakah Onta ini…?.”*, Sahabat Anshor tadi Menjawab : “Milik Saya Ya Rosulalloh”. Beliau yg Penyayang itu Bersabda : *“Apakah Kamu ndak Takut Kpd AlloH SWT akan Tanggung JawabMu Terhadap Hewan ini, yg telah Alloh SWT Berikan KpdMu, Onta ini tadi Mengadu KpdKu Bahwa kamu telah Menelantarkannya dan Terlalu Memeras Tenaganya hingga ia Kecapaian”*, Masyaa Allah 77x. Maka itulah didalam Darah & Penyembelihan Nabi SAW Bersabda : *“Bila Kalian Hendak Membunuh (Hewan) maka Bunuhlah dgn Cara yg Baik, Bila Kalian Hendak Menyembelihnya maka Sembelihlah dgn Cara yg Baik, yakni : Tajamkanlah Pisau Kalian dan Tenangkanlah Hewan yg Hendak Kalian Sembelih”*… Masya Allah 77x Ternyata Ada Rahasia Haqiqat disebalik Sunnah-sunnah yg Beliau S.A.W. Ajarkan ini". "ShollalloHu 'Alaa Muhammad (Tak Terhingga Kali). Semoga Kita semua semakin Meningkat Mahabbaturrosulnya Khususnya dibulan Nabi Yaitu di Bulan Sya'ban ini, Aamiiin".