Kamis, 02 Januari 2025

MAKRIFAT NGAJI KOK NGANTUK

Moch Djamhar Abdul Karim : =================== *MAKRIFAT* *NGAJI KOK GUANTUK* =================== Assalamu'alaykm abah Nuwun 1000 Mengenai mengantuk abah, Sy klo ke saung nderek ngaji klo ngaji sedang berlangsung pasti ngantuk abah, ngantuknya ndak tertahan ngantuk pisan, sy selama ini coba mengkondisikn dgn putar tasbih alloh.. alloh.. sedikit membantuk tetapi masih menang rasa ngantuknya. Tapi klo ngajinya selesei maka selesei jg ngantuknya, bnyk salah dosa dan su'ul adab sy ke abah mohon maaf bah Nuwun abah =========== Wslm Wr Wb, Baiklah Saya Bahas Ttg Ngaji Nguantuk Berat Bahkan Ada yang sampai Tertidur Pulas. Asbab Nguantuk saat Ngaji, yakni sbb : 1. Kondisikan Makanannya, Jangan Kebanyakan Makan, Jangan Banyak Konsumsi Kue Basah Mengenyangkan Tapi Makanlah Kue Kering. Kalau Berkunjung kepada Para Guru Ahli Tirakat Biasanya disuguhkan Makanan Kering spt Krupuk, Kacang, Rangginang dkknya. 2. Jangan saat Mau Ngaji Banyak Hal yang sudah Masuk ke Otak, seharusnya Pakai Ilmu Cangkir Kosong (Otak Kosongkan) shg Ketika Ngaji Otak dalam Kondisi sudah Siap diisi dengan Sesuatu yang Baru lagi, sebab Bila Overload maka Efeknya ke Mata lalu Otak sudah ndak Bisa Mikir lagi shg Jadilah Ngantuk. 3. Aktivitas Bekerja Memang Butuh Istirahat Dahulu Tetapi Bila Langsung dipakai Ngaji maka Biasanya Rasa Lelah Menjadi Rasa Ngantuk. 4. Kurangnya Olahraga Menjadi Faktor Berikutnya, karena Asupan Darah ke Otak Menjadi Kurang Maksimal shg Daya Pikiran Menjadi Kurang Sempurna. 5. Faktor ndak Nyambung dgn Isi Pengajian Bisa juga Menjadi Faktor Ngantuk Bedikutnya, maka itu Sebelum Ngaji agar Muthola'ah Dahulu Apa yang akan dibahas Nanti saat Ngaji. 6. Tapi Uniknya Baru Duduk Sebentar sudah Ngantuk, Ini Faktor Psikis or Non Medis or Faktor Adat Kebiasaan maka harus dilawan dengan Berwudhu dan Menggerakan Badan Terlebih Dahulu. 7. Bisa juga Ngantuk saat Mendengarkan Khutbah Jum'at, Membaca Al Quran, Ta'lim Bersama Guru d.l.l. Terjadi karena Muatan Nuur Positif dari Khotib, Al Quran dan Guru yang Menyampaikan itu Bersinggungan dengan Naar Negatif yang Ada didalam Diri Pendengar shg Pro Kontra Menghasilkan Negatifnya Kalah lalu Jadilah Mengantuk, Bila Negatifnya Menang maka akan Keluar dari Masjid or Majelis or Berhenti Mengaji Al Qurannya. 8. Waktu Pengajian juga Berpengaruh, Misalkan Ngaji diwaktu Shubuh or Bada Isya Biasanya Lebih Ngantuk daripada Ngaji Selain itu. 9. Parahnya Mengantuk Adalah Ngaji disemua Waktu Hasilnya Mengantuk, ini Level Parah maka Segera Atasi dengan Wudhu dan Kopi. =========== Ku Mau Cerita, Dahulu Ada Sahabat MURRI Usia 42 Tahun yang Rajin Hadir dalam Setiap Pengajian MURRI, Cuman Ia Baru Bercerita Ttg Rasa Mengantuknya Terlalu Parah, Ia Berkata pada Saya : "Kenapa Yah, Saya Kalau Mendengarkan Abah sedang Mengaji jadi Ngantuk Bener, Nggak Bisa ditahan-tahan, Padahal Baru "Assalamu 'Alaikum", Itu Ucapan Salam Memangnya Ada Apaan Yah, sebab Kalau Sebelum Mengucapkan Salam maka Biasa saja nggak Ada Rasa Mengantuk Sama Sekali, Tetapi Begitu dibuka dengan Salam maka Langsung dah Menguap lalu Sangat Benar-benar Mengantuk"|| Saya Jawab : *"Terus Kamu Bagaimana Mensiasatinya supaya ndak Mengantuk.?"*|| "Sampai saat ini Belum Bisa Bah, Biasanya dalam Waktu 5 Menitan Saya ke Belakang, Seduh Kopi, Minum Sedikit lalu Rebahan Sebentar, Begitu Rasa Ngantuknya Mulai Hilang Saya Hadir Kembali Ikut Mengaji lagi Bersama Abah"|| *Terus Mengantuknya Hilang.?"*|| "Nggak, Masih Ngantuk Berat"|| *"Berarti Kamu Wudhu, "Laa Yamassuhu illal Muthohharun Tidak Bisa Menyentuh (Nur Quran or ilmu) Terkecuali dalam Keadaan Suci", Ilmu Itu Adalah Nur sedangkan Nur itu Adalah Salah Satu Bentuk Kesucian, maka Pancaran Nur Ilmu itu Memang Bisa Mendamaikan dan Menenangkan Tetapi Bagi Sebagian Orang dapat Memberikan Efek Ngantuk Bahkan Tertidur "Laa Tasyuruun Tanpa Ia Sadari lagi" sudah Tidur. Tetapi Tidur disaat Mengaji itu juga Rohmat Alloh, Walaupun Begitu Tetap Pilihlah Ridho Alloh SWT yaitu Melek Mata saat Mengaji shg Jadilah Wong Alim yang Memiliki Nur Ilmu, sebab Bila Masih Mengantuk Terus maka ndak Bisa-bisa Jadi Wong Alim Tetapi Jadinya Wong Awam yang Kecipratan Wong Alim shg yang ada Cuman Wawasan Pengetahuan saja, Itulah Ngaji Tabarrukan saja Namanya, maka Bagusnya Bukan Menyimak saja Tetapi Menulis or mencatat sampai Memiliki Keterampilan didalam Hal Mencatat Ilmu, Nanti Bila ndak Tahu Bisa Bertanya saat Ada Sesi Tanya Jawabnya"*. Ada lagi Seorang Pemuda Usia 28 Tahunan Ikut Mengaji Bersama MURRI, Ia dan Beberapa Temannya Jaman Dahulu sudah Saya Beritahukan Ttg Bahasan "Nuur Ilmu" kemudian selesai Pengajian Bersama Saya lalu Saya Datangi saja Anak Muda ini kemudian Saya Tegur Begini : *"Kamu Kalau Ikut Ngaji Bersama Saya Jangan Berbuat Zholim kepada Umat Nabi Yah, itu ndak Boleh"*|| Ia Jawab : "Iyah Bah, Saya Maaf, Sekali lagi Saya Mohon Maaf, Saya nggak akan Mengulanginya lagi"|| Temen-temennya pada ndak Mudeng (Ndak Nyambung) Ttg Kesalahan Apa yang dilakukan oleh Temannya ini lalu Saya Jelaskan : *"Umat Nabi yang Hadir dipengajian Saya Punya Hak Tuk Mendapatkan Ilmu dan Ridho Alloh Bukan cuman Rohmat saja, maka Ketika Ta'lim Berlangsung Sebenarnya Banyak sekali Nur-nur Ilmu Bertebaran spt Cahaya-cahaya Kilat yang Kesana-kemari sesuai Mata Saya Melihat dan Memandang, Tetapi Banyak juga dari Jama'ah Ibu-ibu yang Belum Siap shg Nur ilmu Takala hendak Masuk ke Qolbu Mereka sedangkan Mereka saat itu sedang Lengah ndak Menyimaknya (Ini Takdirnya Wong Awam tadi selalu Begituh Jatahnya), Akhirnya Banyak Sekali Nur-nur Ilmu yang pada Balik lagi, Cuman Anak Muda ini Ia Mengambil Nur-nur Ilmu yang Merupakan Jatah Umat diambil olehnya dengan Berdo'a : _"Ya Alloh Saya Ikhlas dan Saya Ridho, Menampung dan Menyimpan Nur-nur Ilmu yang ditebarkan oleh Guru Saya saat ini kepada Umat Tetapi Umat ini Banyak yang Lengah dan Menolaknya, maka Hamba Mohon Pindahkanlah Ya Alloh Nur-nur Ilmu ini kepada Diri Saya yang Bodoh ini hingga Terang Benderang Tercahayai oleh Nur-nur Ilmu Engkau Ya Robb, Aamiin Bisirril Faatihah..."._ Lalu Kedua Tangan Terbuka diatas Lutut Duduk Bersila, Seraya Menyiapkan Diri agar Nur-nur Ilmu itu Bisa Masuk lebih Mudah kepada Dirinya, shg dari semua Jama'ah yg Hadir Anak Muda inilah yang Cahaya Ilmunya Lebih Besar Tuk saat ini, Nah Bila Pengajian Saya Jangan Kalian Lakukan spt itu karena Hal itu Termasuk Perbuatan Zholim sebab Umat juga Butuh Ilmu dan Ridho Alloh SWT bukan Rohmat saja, Tetapi Kalau diluar Pengajian Saya itu Terserah Kalian sebab Urusannya Bukan kepada Diri Saya"*. _*"Salah Satu Tanda Guru yang Memiliki Nur Ilmu (Al Ilmu Nuurun) Adalah di Otaknya sudah ndak Otak Duitan lagi or ndak Otak Bendawi lagi, sebab Nur itu Salah Satu Sifat Ketuhanan, yakni Tanpa Pamrih, Tulus dan Ikhlas ketika Memberikannya. Tapi Bila dalam Kehidupan Sehari-harinya Masih Otak Duitan maka yang Ada Bukan Nuur Tetapi Naar yaitu : hanya Wawasan Pengetahuan Belaka yang diberikan, maka Do'anya juga Termasuk Naar (Api) Takala diminum oleh Umat maka Turut Kegendong Naar Hawa Nafsu Duniawinya. Akhlaknya, Pabila Saya Membahas Ilmu Tauhid dan Ketuhanan maka Dzikirlah Ismu Dzat : Alloh.. Alloh.. Alloh.. Tetapi Bila Saya Membahas Ttg Kisah Nabi, Kisah Ulama, Hadits, Hukum-hukum Islam d.l.l. maka Bacalah Sholawat Jibril : "Shollallohu Alaa Muhammad", Ucapkanlah dengan Nada Lirih sambil Menyimak dan Mendengarkan lalu Menikmatinya"*_. *"Bila Gelombang Bahasan itu ndak Nyambung, Apalagi ndak Nyambung sama Sekali maka yang Ada Adalah Bingung, Pusing lalu Akhirnya Mengantuk dan Tertidur, Tetapi Bila Bahasan itu Nyambung maka Sueger dan Menikmati ndak Ada Rasa Kantuk sama Sekali, Umumnya Umat Bisa Nyambung bila Memakai Ilmu Guyonan dan Candaan juga Lawakan, Yaa spt Itulah Keadaan Umat dari Jaman ke Jamannya"*.

Tidak ada komentar: