Rabu, 08 Januari 2025
MAKRIFAT KHOFI DZIKIR "HUU ALLOH" MURRI
Moch Djamhar Abdul Karim :
========================
*MAKRIFAT KHOFI*
*DZIKIR "HUU ALLOH" MURRI*
========================
SERI KESATU
Assalaamu 'alaykum maaf abah mau tanya wasiat MURRI semuanya ada 9 poin, yg saya mau tanyakan wasiat no. 5 itu waktu dzikir khofi "Hu Alloh", apakah lafad Alloh mengeluarkan nafasnya lewat hidung atau mulut? terima kasih abah
===========
Wslm Wr Wb,
1. *Dzikir Khofi* Lafadz "Huu" saat Masuk sedangkan Lafadz "Alloh" saat Keluar Nafas dan Menyebar ke Seluruh Badan. Bedakan dengan *Dzikir Sirr yaitu Ismu Dzat* : Alloh.. Alloh.. Alloh.. di Qolbu Batin, Kalau di Wasiat MURRI Poin 2 Tentang Tata Cara Liqo illah.
2. Cara seperti itu dikenal dengan Praktik Dzikir Khofi Kangjeng Sunan Gunung Jati dan Syekh Siti Jenar Muridnya. Sedangkan Wali yang Lainnya Mungkin Caranya dibalik or Salah Prasangka or Salah Dengar dari Guru dan Gurunya or Guru Gurunya Terus Menerus sampai pada Sang Maha Guru Mujaddid Dzikir Khofi Tersebut Saya pun Kurang Tahu, Tetapi yang Jelas Versi MURRI seperti itu Adanya. Dan Umumnya Para Sahabat MURRI yang Baru dibedah bisa Masuk sampai Wasiat MURRI 1-3 sebab Spiritualnya masih Lemah, lalu Bertahap ketika Cek Spiritual sampai Layak dan Cocok pada Wasiat MURRI Semuanya 1-9.
3. Dzikir Khofi ini adalah Tuk Selamatnya Nafas yang Masuk dan yang Keluar, Nafas yang Naik dan yang Turun, Nafas Pergi kepada Diri Kita dan Nafas yang Kembali Pulang kepada yang Mempunyai Nafas Tersebut yaitu Alloh SWT. Maka itu Pabila Nafasnya Tak dipakai Dzikrulloh akan Ketar-ketir Hidupnya sebab Tak Memiliki Pengamanan didalam Iman Islamnya, dan Khawatir Wafat dalam Keadaan Tak Bersama Iman karena Dzikir Khofi ini Bertujuan ketika Wafat disaat Menarik Nafas Maupun ketika Keluar Nafas, semuanya sedang Dzikrulloh Bersama Iman Islamnya. Tetapi Bagi yang Belum Jadi Dzikir Khofinya maka Bersiap-siap ada Sakarotul Mautnya yang Menakutkan. Nafas pun ada Tanggungjawabnya dipakai Apa dan digunakan Tuk Apa Nafas Kamu.?, maka Jawabnya dipakai dan digunakan Tuk Dzikrulloh yang dinamakan Dzikir Khofi MURRI ini.
4. Makanya di MURRI Ada Istilah Cek Spiritual Khusus bagi Para Pejuang MURRI setiap 3 Bulan Sekali, yaitu : *Keislaman Nafas Berapa Persen, Keislaman Pencernaan Berapa Persen, Keislaman Aliran Darah Berapa Persen, Keislaman Jasad Berapa Persen, Keislaman Ruh Berapa Persen, Keislaman Jiwa Berapa Persen, Keislaman Qolbu Berapa Persan, Keislaman Hawa Berapa Persen, Keislaman Nafsu Berapa Persen, Keislaman Akal Pikiran Berapa Persen, Nur Tulus, Nur Iman, Nur Islam, Nur Ihsan, Nur Tauhid, Nur Dzikir, Nur Mahabbah Umat, Nur Mahabbah Guru d.l.l. yang Paling Sulit itu Adalah Keislaman 100% Ruh Seseorang sebab Semua Hal diatas harus 100% juga*, karena itu Para Pejuang MURRI harus diatas Rata-rata Manusia Pada Umumnya didalam Hal Spiritualnya supaya Satu Komando dan Satu Shaf Barisan yang Super Kokoh, Nanti Kendalanya Apa saja maka Saya Langsung yang Berikan Solusi Tepatnya. Jadi Semua Sahabat MURRI ini Berbeda-beda Tugas dan Tanggungjawab Diri dan Keumatannya, maka itu Masing-masing Diri akan Saling Membutuhkan Satu sama Lainnya, sedangkan Pancer Semuanya Berpusat pada Diri Guru sebagai Pusat Tatasuryanya, oleh karena itu Pabila Hubungan kepada Gurunya Baik Zhohir maupun Bathin Tak bisa dijaga maka Spiritualnya Pasti akan Anjlok Turun Drastis agar disadari Betul.
5. Metode Bimbingan MURRI dalam Hal Peningkatan Spiritual, sbb :
1). Bedah Ruhani MURRI (Paling Lama 30 Menit Perorangnya) dilakukan hanya Sekali dalam Seumur Hidup, Niat Taubat Minimal 70% dan Tak Melakukan Dosa Besar lagi.
2). Lalu dicek Spiritual (Paling Lama 7 Menitan) dilakukan secara Istiqomah setiap Maksimal Tiga Bulan Sekali Sejak di Bedah Ruhani (ini Sangat Penting Sekali), sebab Bila Tak Cek Spiritual Umumnya Para Sahabat MURRI Tak Tahu akan Solusi Dirinya yang Tepat didalam Meningkatkan Kualitas Spiritualnya Saat ini dan Kedepannya. Banyak juga yang Tak Menyadarinya bahwa Tali Guru telah Putus Asbab Tak bisa Menjaga Hubungan Guru dengan Baik or Berbuat Dosa Besar maka Tali Guru Otomatis Putus oleh karena itu Rusak Batinnya akan lebih Parah daripada yang Belum Pernah dibedah sama Sekali, Ibaratnya : Mengapa setelah Nikmat Alloh SWT Cabut lalu Sadar Kembali, seharusnya Sebelum dicabut sudah Sadar lalu Taubat Kembali.
3). Pabila setelah Bedah Ruhani Berbuat Dosa Besar maka Bedah Ulang Kembali dengan Niat Taubatan Nashuha, sebab Rusaknya lebih Para daripada yang Belum Pernah di Bedah. Di MURRI diberi Kesempatan Tiga Kali Bedah Ruhani, Pabila Masih Berbuat Dosa Besar lagi maka Tak diperkenankan di MURRI lagi (Keluar dari Bimbingan MURRI).
4). Bagi yang Punya Waktu Luang dan Kesempatan maka Ikut Pesantren Hakikat MURRI (Lamanya Minimal Semingguan dan Maksimal Sebulanan) Tuk Perbaikan Diri dan Keluarga, Tetapi bila ada Jatah Keumatan dan Kedepannya akan Mengalami Ujian yang Cukup Berat maka Biasanya ditambah Sekian Hari sampai Petunjuknya diperintahkan Pulang sudah Cukup. Daftar Mesantrennya ke Kang Arif Pondok Aren (Cari saja Nomor Kontaknya).
5). Bagi yang sudah Pernah Mesantren Hakikat MURRI maka Kedepannya agar Mesantren Kembali Minimalnya 6 Bulan Kedepan dan Maksimalnya 1 Tahun Kedepan, dan Usahakan Jangan Lebih dari Setahun setelah Lulus Mesantren Pertama Tersebut. Sebab Biasanya bila dibawah Satu Tahun setelah Lulus Pesantren Pertamanya lalu Mesantren Hakikat Kedua or Ketiga Kali dan seterusnya maka Lama Waktunya Mesantren Hakikat akan Singkat sudah Lulus (Biasanya Cukup hanya Semingguan), Tetapi bila Jeda Waktunya diatas Satu Tahun Biasanya agak Lama diatas Semingguan Baru Lulus, sebab Banyak Nur-nur Spiritualnya yang harus ditingkatkan.
6). Adapun Penggemblengan Wirid Istiqomah dan Ibadah Istiqomah nanti akan dituntun sesuai dengan Tugas dan Kewajiban Diri dan Jatah Keumatannya, jadi Tiap Orang Beda-beda. Adapun Tuk Pesantren Hakikat MURRI GRATIS, Jadi Kalau saya Makan maka Para Santri Makan, Kalau Saya Tak Makan maka Para Santri pun Tak Makan, Daftarnya ke Kang Arif Pondok Aren.
7. Kisah Dzikir "Huu Alloh" pada Bani Adam Saya akan Ceritakan Gamblang, yaitu :
1). Jaman Dahulu ketika dikandungan Ibu, pada Bulan Pertama diturunkan Nur Qudroh (Cahaya Kuasa) pada Penciftaan Awal Janin Asalnya dari Saripati Tanah (Al Sulaalah) yaitu : Ayahnya Makan Makanan Apa maka Tanaman Tersebut Bersumber dari Tanah maka Saripatinya Menjadi Mani Sperma yang Siap Membuahi disebut Al Sulaalah, lalu dari Al Sulaalah Tersebut yang Jadi hanya Satu yaitu Saripati Maninya yang disebut An Nuthfah, kemudian Mani Bercampur Ovum (Sel Telur) yang Siap dibuahi dalam Proses Fertilisasi Pembentukan Embrio Menjadi Zigot (Bakal Janin) maka Proses Awal Fertilisasi ini disebut Proses Turunnya Nur Qudroh (Cahaya Kuasa) pada Bulan Pertama dikandungan sehingga Nur Kuasa Alloh SWT diproses Sedemikian Rupa supaya Sempurna dan diridhoi Lahir dan Batin Janin. Sebagai Kedua Orang Tua agar Berdoa Khusu' pada Alloh SWT Memohon diturunkan Nur Qudroh yang Sempurna dan yang diridhoi Alloh SWT pada Janinnya Tersebut, supaya Kelak Anaknya ketika Lahir bisa Kuasa (Mampu) dalam Hal-hal Kebaikan Menuju Alloh SWT juga Kuasa atas Banyak Tempat dan Wilayah. Pabila Hamba Alloh yang 'Arif Billah ketika ia bisa Manunggaling di Nur QudrohNYA maka Setiap ia bisa Melakukan Sesuatu Hal yang diluar Adat Kebiasaan (Khowariqul 'Adah) seperti Bisa Berjalan Cepat, Bisa Lipat Bumi, bisa Sangat Kuat, Seucap Nyata d.l.l. Tentunya Bukan Memakai Ilmu Jin dan Khodam Tetapi Asli Manunggaling di Nur QudrohNYA, itu yang Asli Tetapi Banyak juga yang Aspal Menggunakan Media Jin or Khodam, itu Tuk Membedakan Mana Arif Billah dan Mana Hamba yang Salah bin Keliru. Alloh SWT Berfirman didalam QS. Al Mu'minun Ayat 12 :
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ طِيْنٍ
*"Dan Sesungguhnya KAMI telah Menciptakan Manusia (Bani Adam) dari Suatu Sari Pati (Al Sulaalah) yang Berasal dari Tanah (Ath Thiin yang ditakdirkan Tuk dimakan Ayahnya)"*.
Ketika Ayah Memakan Daun-daunan, Biji-bijian, Tanaman, Sayuran, Buah-buahan dan Segala Sesuatu yang Tumbuh dari Tanah maka akan Membentuk Saripati Berupa Mani (Sperma) maka Mani Tersebut disebut sebagai Al Sulaalah, lalu Al Sulaalah (Saripati Tanah) ini Sifatnya Masih Umum sebab Tak Semua Mani disebut sebagai An Nuthfah (Saripati Mani) maka yang disebut Nuthfah Adalah dari Jutaan Spermatozoid yang Berhasil Membuahi Sel Telur hanyalah Satu saja dan ini disebut sebagai Saripati Mani yaitu An Nuthfah, jadi Antara Al Sulaalah dengan An Nuthfah Ada Kaitannya Tetapi ada Perbedaannya. Alloh SWT Berfirman didalam QS. Al Mu'minun Ayat 13 :
ثُمَّ جَعَلْنٰهُ نُطْفَةً فِيْ قَرَا رٍ مَّكِيْنٍ
*"Kemudian KAMI Jadikan ia (Manusia Bani Adam) dari Air Mani (An Nuthfah) yang Berada dalam Tempat yang Kokoh (yaitu Rahim Ibunya karena Telah Bercampurnya antara Mani dan Sel Telur)"*.
2). Pada Bulan Kedua diturunkan Nur Irodah (Cahaya Kehendak) pada si Calon Janin Berupa Segumpal Darah yang Kental disebut Al 'Alaqoh. Alloh SWT Berfirman didalam QS. Al 'Alaq Ayat 2 :
خَلَقَ الْاِ نْسَا نَ مِنْ عَلَقٍ
*"DIA telah Menciptakan Manusia (Bani Adam) dari 'Alaq (Bentuk Jamak dari Lafadz 'Alaqoh, Artinya Segumpal Darah yang Kental)"*.
Maka Proses Awal Fertilisasi ini disebut Proses Turunnya Nur Irodah (Cahaya Kehendak) pada Bulan Kedua dikandungan sehingga Nur Kehendak Alloh SWT diproses Sedemikian Rupa supaya Sempurna dan diridhoi Lahir dan Batin Janin. Sebagai Kedua Orang Tua agar Berdo'a Khusu' pada Alloh SWT Memohon diturunkan Nur Irodah yang Sempurna dan yang diridho Alloh SWT pada Janinnya Tersebut, supaya Kelak Anaknya ketika Lahir bisa Berkehendak (Irodah) dalam Hal-hal Kebaikan Menuju Alloh SWT juga setiap Greteg Hajat dan Cita-citanya Alloh SWT Ijabah. Pabila Hamba Alloh yang 'Arif Billah ketika ia bisa Manunggaling di Nur IrodahNYA maka Setiap Greteg Hatinya akan Terjadi dan Terbukti, Contoh : Dihati Greteg ingin Makan Sate, Tak Lama Kemudian ada yang Datang Membawa Sate.
3). Pada Bulan Ketiga diturunkan Nur Ilmu (Cahaya Pengetahuan Tuhan) pada si Janin Segumpal Daging yang Sekepal Tangan (Al Mudhghoh). Pada Bulan keempat diturunkan Nur Hayah (Cahaya Kehidupan) pada si Janin Tulang Rawan ('Izhomah) kemudian Menjadi Daging yang Menempel pada Tulang Tersebut (Al Lahm). Alloh SWT Berfirman didalam QS. Al Mu'minun Ayat 14 :
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظٰمًا فَكَسَوْنَا الْعِظٰمَ لَحْمًا ثُمَّ اَنْشَأْنٰهُ خَلْقًا اٰخَرَ ۗ فَتَبٰـرَكَ اللّٰهُ اَحْسَنُ الْخٰلِقِيْنَ.
*"Kemudian Saripati Air Mani (An Nuthfah) Tersebut KAMI Jadikan Segumpal Darah yang Kental (Al 'Alaqoh) lalu Segumpal Darah yang Kental Tersebut KAMI Jadikan Segumpal Daging yang Besarnya Sekepal Tangan (Al Mudhghoh) dan Segumpal Daging Tersebut KAMI Jadikan Tulang-belulang yang Rawan (Lunak), lalu Tulang-belulang yang Lunak Tersebut KAMI Bungkus dengan Daging (Al Lahm) kemudian KAMI Jadikan dia sebagai Makhluk yang lain (yaitu Sosok Bayi dengan ditiupkan Ruh ke dalam Tubuhnya). Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik"*.
Sebelum Ruh itu Masuk kepada Jasad Bayi yang sudah Siap maka Sebelumnya ada Kejadian di Alam Ruh, yakni : Dialog Seorang Ruh yang sudah Makrifat dan sudah Musyahadah kepada Alloh SWT Tuk Bersiap Masuk kedalam Rahim Seorang Ibu sesuai Takdirnya Masing-masing, dimana Seorang Ibu dan Ayah Tak bisa Memilih dan Seorang Anak pun Tak bisa Memilih ingin Lahir dari Rahim Seorang Ibu seperti Apa.?, Alloh SWT Berfirman didalam QS. Al A'rof Ayat 172 :
وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْۤ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰۤى اَنْفُسِهِمْ ۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۗ قَالُوْا بَلٰى ۛ شَهِدْنَا ۛ اَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَ.
*"Dan (ingatlah) ketika TuhanMu Mengeluarkan Keturunan Anak-anak Adam dari Sulbi Mereka yaitu Anak Cucu Mereka (secara Turun Temurun) dan Alloh SWT Mengambil Kesaksian Terhadap Jiwa Mereka (dengan Berfirman) : "Bukankah AKU ini TuhanMu?" Mereka Menjawab : "Betul, Kami Bersaksi" (bahwa ENGKAU Adalah Tuhan Kami, maka itu seutama-utamanya Dzikir Adalah Laa ilaaha illalloh dan Bersyahadat sebab inilah Dzikir Persaksiannya di Alam Ruh, Cuman Kebanyakan Manusia ketika Lahir ke Alam Dunia pada Lalai dan Ingkar akan Persaksiannya Tersebut)*.
Maka Takala sudah Lengkap 4 Nur Awal Sifat Ma'ani Ketuhanan ini lalu dipersiapkanlah Salah Satu Ruh dari Alam Ruh Tersebut Tuk dipilihkan agar bisa ditiupkan dan Melalui Ubun-ubun Bayi yang sedang ada di Alam Rahim Seorang Ibu Tersebut, juga Ruh ini Tak Memiliki Jenis Kelamin Sifatnya maka Adapun Jenis Kelamin ini Hadir ketika Kelak ia ditiupkan Ruh Tersebut kepada Jasadnya lalu Manunggaling, makanya Kajian-kajian Hakikat dan Makrifat MURRI itu Sifatnya Tuk Semua Jenis Kelamin, Contoh : Sunnah Memelihara Jenggot maka Seorang Wanita juga harus Berjenggot Maknanya Adalah harus Memiliki Sifat Bijaksana dan Adil, maka Sifat Jenggot ini Bukan pada Laki-laki saja, Itulah Mengapa Kajian Hakikat dan Makrifat MURRI Tak Memandang Jenis Kelamin, sebab di Alam Ruh Tak punya Jenis Kelamin sama seperti Para Malaikat saja. Alloh SWT Berfirman didalam QS. Shood Ayat 72 :
فَاِ ذَا سَوَّيْتُهٗ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِيْ فَقَعُوْا لَهٗ سٰجِدِيْنَ.
*"Maka Apabila telah KU Sempurnakan Kejadiannya (yaitu Keempat Nur Awal sudah Siap) dan KU Tiupkan (dan KU Alirkan) kepadanya yaitu Ruh Ciptaan-KU (sehingga ia Menjadi hidup, maka Ruh ini Sifatnya Lembut dan ndak Kelihatan oleh Mata, yang Membuat Manusia dapat Hidup bila Masih Ada Ruhnya)"*.
8. Ketika ditiupkan Ruh ke Ubun-ubun Bayi Berbunyi : "Huu" lalu Masuklah kedalam Tubuh lalu Tersebarlah Bunyi : "Alloh.. Alloh.. Alloh.." ke Seluruh Jasad yang Kecil maupun yang Besar sehingga Telinga bisa Bergerak dan Mendengar diusia Kandungan 5 Bulan, Mata bisa Bergerak dan Melihat (Tapi Belum Melek) kesekitar diusia 6 Bulan, Lisan bisa Bergerak dan Berkalam diusia 7 Bulan maka itu suka dibuat Tasyakuran 4 Bulanan Tuk diberikan Ruh Terbaik sedangkan Tasyakuran 7 Bulanan Tuk diberikan 7 Sifat Ma'ani (Software Ketuhanan) sudah Lengkap Sempurna, sedangkan diusia 8 Nur Rohman dan diusia 9 Nur Rohim sedangkan 10 Hari sebagai Penyempurna Tambahannya (Finishing Nur-nur, Jasad dan Ruh). Alloh SWT Berfirman didalam QS. Al Ikhlas Ayat 1 :
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ
*"Katakanlah (Bermakna : Dzikirlah or Sebutlah Ya Muhammad "Huu Alloh, DIA lah Alloh SWT Yang Maha Esa")"*.
9. Lafadz Huwa or Huu Adalah Mubtada (Permulaan) sedangkan Lafadz Alloh Adalah Khobarnya, sedangkan Lafadz Ahadun Adalah Badal (Pengganti) dari Lafadz Alloh, bisa juga Menjadi Khobar Kedua dari Lafadz Huwa. Maknanya : Huu didahulukan daripada Alloh, Inilah Perjalanan Hakikatnya. Ibarat Huu Adalah Dzikir Ruh sedangkan Alloh.. Alloh.. Alloh.. Dzikir Qolbunya. Adapun Makna "Huu Alloh" Adalah "Dzat Alloh", dan Arti Dzat disini Janganlah diartikan Dzat yang Sebenarnya Tetapi Arti Dzat disini hanya Sebuah Lafadz yang Mendekati dan Berhampiran pada Pemahaman yang Benar sebab bila Tak Memakai Istilah "Dzat" maka akan Kesulitan didalam Memahami Tauhidnya Kelak. Maka Dzikir Khofi Tersebut Berbunyi di Qolbu Batin *"Huu"* Tarik Nafas dan *"Alloh"* Keluar Nafas dan Menyebar ke Seluruha Pelosok Diri sampai Semua Kulit, Darah, Pencernaan dari Ujung Rambut sampai Ujung Kaki Lahir dan Batin Menyebut-nyebut Alloh.. Alloh.. Alloh.. Inilah Insan Kamil Mukammil itu, sebab Semua Dirinya Islam 100% Rohmatan Lil 'Alamiin. Alloh SWT Berdirman didalam QS. Ali Imron Ayat 103 :
وَا عْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖ
*"Berpegang Teguhlah Kalian kepada Tali Alloh SWT (yaitu Fokus pada Hablum Minalloh yang Kuat dan Kokoh Membaja) Kesemuanya (dalam Hal Apapun dan Kondisi Apapun) dan Janganlah Kalian Berpecah-belah (Semua Anggota Diri Jangan Salah Tujuan sehingga Banyak yang Lupa pada Alloh SWT dan Akhirnya Kelak akan Mendapatkan Murka dan SiksaNYA)..."*.
10. Adapun Lafadz Ruuhii (RuhKU) ini Maknanya Tuk Memuliakan Nabi Adam A.S. ketika Penciftaan Awal oleh sebab itu Penghormatan Tersebut disyari'atkan dengan Cara Sujud Membungkuk kepada Para Malaikat, hanya saja Azazil saat itu Membangkang sehingga Berganti Nama Menjadi Iblis. Jadi Lafadz "Ruuhii" Jangan disalah Artikan dari RuhKU ini bahwa Alloh SWT Punya Ruh Banyak dan Diri Kita Termasuk Bagian Ruh Tuhan yang dibagikan.
11. Ketika Bernafas Tepat pada Tarikan Oksigen (O2), maka yang harus difokuskan Adalah Lafadz *"Huu, Dzat"* sebab Nafas itu dari Alloh SWT lalu Pergi kedalam Diri Kita dan Masuk. Kemudian ketika Keluarnya Nafas pada Hembusan Karbondioksida (CO2) maka Ucapkan : *"Alloh"* sebab Kembali Pulang kepada Pemilik Nafas yaitu Alloh SWT. Usahakan Jangan Bersuara ketika Dzikir Khofi ini dilakukan.
12. Ketika Berjalan, Kaki Kanan Melangkah Ucapkan *"Huu"* sedangkan Kaki Kiri Melangkah Ucapkan *"Alloh"* Cuman Jangan disuarakan, semakin Halus dan Lembut Tak Terdengar Nafasnya maka Semakin Bagus Kualitasnya.
#BERSAMBUNG...
Admin Grup WhatsApp : Kang Ma'riful Anwar (087786443377)
~ ADMIN ~
INFORMASI MURRI PUSAT Klik link di bawah ini:
https://linkr.bio/murripusat
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar